ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Peneliti Politik AS Ini Sebut Trump Berpeluang Tipis pada Pilpres AS 2020

Minggu , 28 Juni 2020 | 20:30
Peneliti Politik AS Ini Sebut Trump Berpeluang Tipis pada Pilpres AS 2020
Peneliti Politik AS yang juga Direktur P3S, Jerry Massie, PhD. (sketsaonline)

JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM - Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, PhD sekaligus peneliti politik AS ini mengatakan petahana Donald Trump kendati berat namun Trump masih berpeluang menang tipis pada Presidential Election Amerika Serikat (AS) 2020 ini.

"Kendati berapa survei, Trump kalah dari pesaingnya mantan (Vice of President) Wakil Presiden Barrack Obama yaitu Joe Bidden khususnya penanganan COVID-19.

Bidden yang unggul atas Bernies Sanders pada Febuari lalu saat konvensi yang digelar di New Hempire, Iowa, Nevada dan South Carolina. Bahkan pada Super Tuesday di 14 Negara bagian, Wakil Demokrat asal Delaware kota yang memiliki 3 county saja jauh dengan Texas yang punya 254 county, bisa lolos ke mewakili Demokrat," ucap Jerry.

Kunci kemenangan Trump waktu lalu ada di branding image, branding market-nya dimana mengusung jargon MAGA (Make America Great Again) 2016 silam, dan kini diganti Keep America Safe.

Barangkali untuk unggul urainya, keduanya harus merebut swing states (pemilih mengambang) yakni Florida, Ohio, Wisconsin, Michigan dan Pennyslavania serta Nevada.

"Barangkali publik akan melihat prestasi Trump dia yakni PDB melampui Barrack Obama mencapai 4,2 persen, kendati ucapannya kerap penuh kontroversial apa yang dikataknya bukan lips service tapi dilakukannya contoh membangun tembok perbatasan dengan Mexico. Perdagangan Cina pajak dikenakan 20-25 persen," ujar dia.

Pemilih white atau ras kulit putih terangnya, akan sangat menentukan kemenangan lantaran pemilihnya 70 persen, Hispanic (12 persen), dan black (12 persen) sisanya dari Irish, India, Filipina, Israel dan negara lain.

Memang Bidden untuk unggul harus kerja keras. Bisa saja pemilih mileneal dan kelompok zoomer yang menguasai 32 persen di dunia yakni yang lahir antara 1990 dan 2000. Tapi kalau white (evanglism) pasti condong memilih Trump.

Apalagi semua yang disampaikan Trump semua dilakukannya. Contoh bangun tembok dengan Mexico, Mengenakan 20-25 persen tax khusus produk Cina, sampai memindahkan pabrik Ford ke Michigan dan masih banyak lagi dan memberikan lapangan kerja bagi warga AS.

Wilayah South (selatan) adalah milik Trump (Georgia, Texas, Louisana, Missouri, Texas) dan lainya.

Kota-kota besar New York (NY) Boston (MA), Washington Seatle, San Fransisco (CA), Chicago (IL) dan lainnya bakal dimenangkan Joe Bidden.

Dia pun mengungkap faktor kemenangan Trump pada 2016 lalu di antaranya,

1. Ivanca Trump mampu menarik kelompok gender atau female voters (pemilih perempuan)
2. Trump punya 28 juta followers di medsos seperti Facebook dan Twitter.
3. Dibantu Assenge Bos Wikileaks yang membongkar 36 ribu email Hillary
4. Didukung Ratusan Ribu Suku Amish (Pennyslavani)
5. Menang di Swing State (Michigan, Wisconsin, Florida, Ohio)
6. Didukung kaum White yang pemilihnya hampir 70 persen.
7. Jargon kampanyenya Make Amarica Great Again (MAGA) mampu menyihir publik AS.

"Untuk 'status lean', ada lima negara bagian saat condong ke Biden untuk 53 suara pemilih, termasuk Colorado, Michigan, Minnesota, New Mexico, dan Virginia. Tiga negara bagian-Texas, Georgia, dan Iowa, ditambah satu suara elektoral di daerah Nebraska, Omaha - condong ke Trump, untuk 61 suara elektoral," kata dia.

 


Editor : Farida
KOMENTAR